Saat ini sedang marak mengenai realitas nilai rupiah yang anjlok mencapai angka Rp 14.000-an(28/08/2015), bahkan muncul nada sindiran terhadap mata uang rupiah, apakah benar nilai tersebut mengartikan kondisi buruk ? Atau sesuatu akan berdampak krisis di kemudian hari? Jawaban fenomena ini dipengaruhi kebijakan moneter suatu negara. Efek domino yang terjadi sekarang ini diakibatkan menguat-nya mata uang Dolar Amerika Serikat terhadap mata uang lain di dunia. Bukan hanya negara Indonesia yang mengalami pe-lemah-an nilai mata uang, tetapi negara lain yang melakukan perdagangan menggunakan Dolar Amerika, sebagai mata uang perdagangan internasional juga mengalami dampak yang sama, bahkan lebih.
Perdagangan suatu negara terdiri atas aktivitas Ekspor dan Impor, dimana Ekspor berarti menjual produk, jasa , atau hasil alam ke negara lain sebaliknya Impor berarti membeli atau memasukkan sesuatu dari negara lain.Dalam perdagangan suatu negara memiliki keterkaitan erat dengan kurs valuta suatu negara, dimana bila mata uang suatu negara murah akan menyebabkan harga-harga barang yang di-ekspor menjadi murah oleh negara lain tanpa perlu effort lebih untuk mengefisienkan nilai barang. Sebaliknya bagi perusahaan produsen, bila kurs suatu negara menguat, maka akan menyebabkan harga barang jasa suatu negara menjadi mahal bagi negara lain. Kebijakan tersebut sering kali di dalam ekonomi disebut sebagai kebijakan makro oleh pemerintah, yang berkaitan dengan moneter.
Implikasi dan tujuan kurs valuta sengaja di-lemahkan atau dikuatkan oleh kebijakan moneter suatu negara, agar neraca perdagangan membaik sesuai tujuan arah ekonomi negara. Bagi negara produsen atau eksportir, tentu mengeluarkan kebijakan pe-lemah-an mata uang agar secara luas nilai barang menjadi kompetitif untuk dibeli oleh negara lain. Fenomena ini mengakibatkan nilai ekspor naik, permintaan tinggi, perusahaan produsen melakukan ekspansi yang pada akhirnya jumlah permintaan tenaga kerja meningkat menghasilkan pertumbuhan ekonomi suatu negara tinggi.
namun bagi negara importir akan lebih dominan mengeluarkan kebijakan menguatkan mata uang, agar produk impor menjadi lebih murah dengan inflasi rendah, sehingga mempengaruhi konsumsi dan pendapatan rakyat.Arah kebijakan ekonomi suatu negara tentu berubah-rubah sesuai kondisi makro ekonomi suatu negara.Lantas apakah rupiah menyentuh level terendah saat ini baik atau buruk?
Begitu pula arah kebijakan ekonomi negara Indonesia saat ini adalah menjadi negara produsen, tentu semakin rendah nilai mata uang akan semakin baik dan murah produk yang dijual ke negara lain. Hal yang sering dikhawatirkan masyarakat, akibat dampak dari pe-lemah-an mata uang adalah naiknya inflasi atas barang impor. Namun apabila suatu negara produsen berhasil memproduksi barang kebutuhan pokok di dalam negeri dengan tanpa perlu melakukan impor, maka dampak pe-lemah-an nilai mata uang tidak akan menyebabkan inflasi pokok.
Faktor-faktor perubahan nilai suatu mata uang antara lain :
- Mekanisme kekuatan pasar mata uang dunia
- Neraca perdagangan suatu negara
- Kondisi Ekonomi , kebijakan dan politik
- Spekulasi dan ekspektasi mata uang suatu negara
- suku bunga suatu negara
- Inflasi suatu negara
- tingkat pengangguran
- tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara
Pergerakan update nilai mata uang dunia dapat dilihat pada situs ini pada kolom sebelah kanan.
Selamat Ber-Investasi !, Masyarakat yang cerdas merupakan masyarakat yang melek Investasi.
| nilai tukar rupiah 28/08/2015 |

No comments:
Post a Comment